Ya. Sebagai sebuah organisasi, mungkin KRI perlu berbenah. Namun tentu saja itu butuh waktu, dan pembelajaran. Masa yang telah lewat adalah pembelajaran. Dan mengambil pemberlajaran atas tersendatnya jalan organisasi, maka dewan pimpinan mengambil kebijakan penting:
1. KRI tetap sebagai wadah terbuka, tanpa ada formalitas keanggotaan.\
2. Tujuan KRI adalah menjadi BERANDA bagi siapa saja yang ingin berbincang tentang dunia penulisan kreatif. Maka, sebagai beranda, KRI tidak membatasi siapa saja yang bertamu asal dengan itikad baik utk maju bersama dalam berkarya.
3. Yang penting adalah Karya. Pertemuan tidak penting karena era cyber dan sms bisa menjembatani pertemuan.
4. KRI boleh mengadakan kegiatan yang meminta 'sumbangan dana' utk pelaksanaannya, karena KRI tidak mempunyai donatur tetap.
KRI akan mengambil langkah yg perlu demi kita tetap berkarya. Bukan seremonial semata.
salam,
Dewan Pimpinan KRI
kOORDINATOR
AVEUS HAR
Rabu, November 11, 2009
MATI? TIDAK, KRI MASIH HIDUP
Sabtu, Maret 21, 2009
BOLA SALJU PENULISAN KREATIF PELAJAR PEKALONGAN

BOLA SALJU PENULISAN KREATIF PELAJAR PEKALONGAN
Oleh : Khopipah
Divisi Produksi Forum Lingkar Pena (FLP) Pekalongan
Dalam suatu kesempatan silaturahmi Budi Maryono ke Komunitas Rumah Imaji (KRI) 16 November 2008 lalu, lagi-lagi tampak saling lempar tanggung jawab atas kegagalan pelajaran menulis di sekolah. Adalah Dra. Sri Kusmaniyah, guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Kajen yang ‘menangkis’ dakwaan bahwa guru bertanggungjawab atas kegagalan pelajaran ini.
“Sebetulnya kami ingin mengajarkan sastra yang baik, karena dalam kurikulum juga ada bagaimana menulis puisi juga cerpen. Tapi durasi belajar di sekolah hanya dua jam setiap pekan. Bagaimana mungkin dalam waktu dua jam itu anak-anak bisa menyelesaikan 1 buah cerpen misalnya. Belum lagi tuntutan sekolah, yang harus mengejar materi-materi ujian nasional. Kami sebagai guru akan dianggap gagal juga jika banyak yang tidak lulus UAN.”
Begitulah. Dan akan selalu begitu jika polemik seperti ini dilanjutkan. Maka adalah hal yang positif ketika KRI bereaksi dengan sebuah tindakan: menerbitkan buletin penulisan kreatif yang dibagikan secara gratis ke sekolah-sekolah.
Buletin ini boleh dibilang sebagai tindak lanjut penerbitan Bunga Rampai sastra remaja dan pelajar “CIKAL", sebuah kumpulan cerita pendek dan puisi yang ditulis oleh para pelajar dan remaja di wilayah Kabupaten Pekalongan pada April 2008. Adi Toha dalam wacana lokal telah mengupas kekurangan dan kebaikan penerbitan ini (SM 24 Juni 2008).
Sebagai sebuah buletin penulisan kreatif, buletin bernama sama—CIKAL—ini mungkin tidak akan bisa berbuat banyak dalam mengatasi kekurangmampuan siswa dalam menulis kreatif. Namun setidaknya, ini adalah bola salju kecil yang digulirkan KRI dengan harapan akan menggumpal dan membesar.
Secara fisik, buletin ini teramat sederhana. Hanya bentuk fotokopian lima halaman HVS yang dilipat menjadi dua sehingga menghasilkan 20 halaman buletin. Penataan layoutnya pun masih terkesan amatir. Namun justru lewat kesederhanaan fisik itu menjadi pertanda bahwa KRI berani melangkah dengan langkah kecil tanpa harus menunggu kesiapan untuk mampu melangkah yang lebih besar.
Meski sederhana, buletin ini lumayan memberikan pencerahan bagi pembelajaran menulis siswa. Untuk edisi perdana yang diedarkan awal bulan Maret ini buletin menampilkan wawancara dengan seorang penulis Pekalongan, NR. Ina Huda. Ini seolah menyadarkan pada pelajar Pekalongan bahwa ada penulis senior yang bisa digali ilmu dan pengalamannya di sekitar mereka.
Buletin ini juga menampilkan bedah karya puisi dari siswa, tips menulis cerpen dan juga kelas menulis. Dari isinya, tampak bahwa buletin ini—sebagaimana diungkapkan di pengantar redaksinya—ditujukan sebagai wadah saling berbagi (share) karena kegiatan kreatif dengan bertatap muka seringkali sulit dilakukan karena halangan individu.
Yang menarik dari buletin edisi pertama ini adalah ajakan untuk mensupport pendanaan dengan menjadi sponshorship/donatur. Dan di halaman belakang, tercantum pemberi dana untuk edisi perdana ini yang jumlahnya tidak seberapa.
Hal ini menarik untuk dikaji, karena sebagai sebuah komunitas, KRI tidak memiliki donatur tetap bagi kegiatan-kegiatannya. Karena itu untuk edisi perdana ini hanya sanggup mendistribusikan ke sebagian kecil organisasi remaja dan sekolah menengah di Pekalongan dan sekitarnya saja.
Ini tampaknya yang kelak akan menjadi pertaruhan, apakah KRI sanggup mendapatkan dana penerbitan kelanjutannya ataukah tidak dibandingkan dengan apakah KRI sanggup memberikan materi buletin yang berkelanjutan. Karena secara KRI adalah komunitas penulis dan peminat dunia menulis kreatif, saya yakin materi isi buletin tidak akan banyak mengalami kendala. Namun bagaimana dengan dana penerbitannya?
Sanggupkah KRI?
Atau pertanyaan yang lebih tepat lagi, adakah pihak-pihak lain yang siap menyambut bola salju kecil ini dan menggumpalinya hingga membesar sehingga memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan kemampuan menulis pelajar Pekalongan?
Jika kemudian bola salju kecil ini akan terhempas ke dasar lembah dan pecah berkeping, aduh sungguh sayangnya. Maka tak ada gunanya polemik dan mencari kambing hitam dalam kegagalan pelajaran menulis di sekolah. Lebih baik bersama saling mensupport untuk memberikan solusi bagi permasalahan tersebut.
***
Rabu, Maret 04, 2009
RUMAH KITA Materi ke dua kelas menulis dasar FLP Pekalongan)
RUMAH KITA Materi ke dua kelas menulis dasar FLP Pekalongan)
Suatu ketika saya berdiri di depan sebuah rumah milik orang lain. Dari luar, saya membayangkan apa dan bagaimana isi rumah itu. Mungkin kamu juga pernah mengalaminya? Ya, kita membayangkan karena kita tidak tahu dan hanya melihat dari luarnya saja.
Kemudian sang pemilik rumah mempersilahkan saya masuk dan melihat segenap isi rumah. Ketika masuk itulah apa yang saya bayangkan semula bisa jadi berbeda dengan apa yang terhidang di hadapan saya. Dan seringkali memang itu yang terjadi. Meski pun pada akhirnya sering kali pula saya akhirnya bisa menduga seperti apa dan bagaimana isi rumah orang setelah sekian lama mengalami hal serupa. Berdiri di depan rumah, dipersilahkan masuk dan melongok semuanya.
Pernahkah kamu dipersilahkan masuk ke rumah orang?
Ketika masuk ke rumah orang itu lah aku melihat benda-benda yang bagus. Mungkin meja yang berukir indah, kursi beludru yang berornamen macan, tangga yang meliuk. Tapi saya seringkali merasa ingin mengubah sesuatu di dalamnya. Kadang saya merasa karpetnya kurang pas dengan pilihan warnanya. Kadang merasa andai saja ada pot bunga di sudut sana. Kadang merasa kalau ini rumahku akan aku pugar sekat dua ruangan ini agar lebih leluasa.
Begitulah. Dan ketika aku keluar dari rumah itu lalu bertemu dengan teman, aku menceritakan tentang rumah itu. Menceritakan tentang apa dan bagaimana isi dalam rumah itu. Menuturkan hal-hal apa yang aku suka dan yang kuingin mengubahnya jika saja ini adalah rumahku.
Maka begitu lah tugas teman-teman peserta kelas menulis dasar yang saya ampu saat ini. Kita berdiri di depan sebuah rumah orang lain: rumah yang kita sebut karya (cerpen, puisi, artikel, buku). Kita masing-masing telah memasuki rumah itu dan telah keluar. Sekarang tugasnya adalah menceritakan tentang rumah (baca: karya) orang yang telah kita baca.
Berpijak dari situlah tugas untuk dikerjakan dirumah saya berikan. Tugas yang saya sebut imitating. Tulislah karya orang itu dengan kata-kata kita, dengan inovasi kita, dengan bahasa kita sebagaimana kita berandai-andai ingin membangun rumah dan memberikan perabot dalam rumah kita ketika memasuki rumah orang lain.
Tapi jangan dulu kirimkan tulisan kita ke media. Ini hanya sekedar sarana berlatih kita. Sampai ketemu bulan depan.
Salam,
Aveus har
Selasa, Februari 10, 2009
Bungkus dan Isi: materi kelas menulis dasar 1
Bungkus dan Isi
Ini adalah materi pertama yang saya sampaikan di pertemuan pertama kelas menulis Forum Lingkar Pena (FLP) Pekalongan (8/2/09). Dengan berpijak pada tugas membuat surat, saya mencoba menguraikan tujuan kita menulis.
Surat adalah sebuah bentuk komunikasi tertulis di mana ada empat komponen di dalamnya, yakni penuju (penulis surat), tertuju (penerima surat), pesan (isi surat) dan gaya/teknik penulisan (bungkus surat). Apa sih tujuan kita menulis surat? Jawaban yang diberikan peserta kelas menulis adalah:
1. Menyampaikan isi hati
2. Memberikan kabar
3. Menyampaikan sesuatu yang ingin kita sampaikan
4. Mengekspresikan kata-kata.
Pada intinya, rata-rata menganggap bahwa tujuan kita menulis surat adalah menyampaikan sesuatu.. Misalnya, kerinduan seorang adik kepada kakaknya, kabar tentang hari-hari saat banyak tugas sekolah, dan lain-lain. Namun Jika hanya sekedar menyampaikan sesuatu (pesan), kenapa kita harus mengemasnya sedemikian rupa?
Jika sekedar menyampaikan kerinduan, kenapa kita tidak menuliskan: kak, aku rindu kamu. Cukup, dan tidak perlu berpanjang-panjang. Ini karena sesungguhnya kita menulis surat bukan sekedar menyampaikan sesuatu; melainkan menyampaikan sesuatu dengan efek (rasa) yang kita inginkan. Kita menginginkan pembaca surat merasakan suasana hati dan perasaan kita ketika kita menulis. Sehingga tertuju mendapatkan pesan itu dengan efek tertentu, misalnya keharuan.
Makanya mungkin saja kita menulis:
Detik-detik yang bergerak merangkai waktu kian membatukan rasa ingin bertemu. Tiap saat kuhitung angka yang tanggal pada kalender di meja belajarku, benak melayang pada apa yang tengah kau lakukan di sana. Betapa hari tanpamu terasa mati….
Begitulah. Sehingga penting bagi kita membuat tulisan dalam rangkaian kata sedemikian rupa agar efek yang kita inginkan mengena.
Fungsi bungkus sama seperti bungkus makanan. Bayangkan sebuah makanan ringan (snack) dengan bungkus warna-warni dan makanan tradisional yang hanya berbungkus daun. Mana yang lebih menarik bagi anak kecil yang menjadi tertuju produk tersebut?
Kita tahu kemasan begitu penting untuk membungkus isi pesan yang ingin kita sampaikan. Karenanya kita belajar teknik menulis untuk membungkus pesan kita. Baik lewat puisi, cerpen maupun artikel.
Karenanya, di samping sebuah gagasan isi tulisan kita, yang harus kita pikirkan dan renungkan adalah gagasan bungkus tulisan kita. Cara penyampaian kita. Teknik dan gaya penulisan kita.
Mempelajari teknik dan gaya penulisan bisa kita lakukan dengan membaca karya orang lain. Sebagai pembaca kita melakukan: mengupas bungkus à menikmati isi. Tugas pertemuan depan adalah kita membicarakan bungkus dan isi karya yang menarik bagi kita. Bisa berupa puisi, cerpen atau artikel karya orang yang sudah diakui (dimuat di media massa).
Selamat belajar,
Salam kreatif,
Aveus Har
Koordinator Komunitas Rumah Imaji
Instruktur penulisan dasar kelas menulis FLP Pekalongan
**Sebuah sms saya dapatkan dari Khomsi, 19 pada 9 Februari 2009 18:44:
selamat malam, saya ingin bertanya, anda dapat inspirasi membuat cerpen dari mana?dan cara membuat cerpen berkualitas bagaimana?
Untuk Khomsi, terima kasih atas pertanyaannya. Jawaban Insya Allah akan saya up-load minggu depan. Salam kreatif
Rabu, Januari 07, 2009
QUO VADIS KRI?
QUO VADIS KRI?
Ahad (4/1/09) kemarin Siti Khuzaiyah ngajakin ketemuan di rumah Adi Toha alias Jalaindra. Melongok rumah baca yang namanya kulupa buat nanyain. Rumah baca itu hanya ada satu rak. Tapi buku-bukunya bikin ‘liur baca’-ku mengliur. Bukunya keren-keren. Meski sayangnya kulagi males buat pinjem (hal yang sebenarnya adalah kumales buat ngembaliin kalau minjem…J). Jadi begitulah, kucuma baca-baca sekilas di sela obrolan gayeng.
Siti Khuzaiyah ngungkapin kalau dia sebenarnya pingin nulis buat blog KRI ini tentang nasib KRI paska pernikahan sang koordinator alias diriku ini tapi takut aku tersinggung. Aku sih cuma ketawa aja dan malah bilang, “tulis aja gak pa-pa kok!”. Itu bagian dari demokrasi, kan?
Dan bahasa Jalaindra adalah: “Quo vadis KRI?” (moga gak salah nulisnya). Ketakutan KRI akan terbengkelai bukan hal yang berlebihan. Karena memang selama ini KRI masih melekat pada diriku meski aku selalu bilang: “KRI adalah kita, kita semua.” Dan meskipun aku menikah, aku tak ingin KRI mati begitu saja.
Kenapa KRI seperti jalan di tempat? Kurasa, alasan klise yang tampak adalah kurangnya rasa memiliki KRI itu. Jadi seolah KRI adalah one man show. Padahal apa sih yang bisa ave lakukan tanpa teman-teman lain?
KRI memang organisasi lepas, tidak mengikat anggotanya. Siapa aja boleh bergabung dan boleh hengkang. Siapa aja boleh berkontribusi dan boleh sekedar pingin tahu. Tapi sungguh, aku selalu ingin KRI bergerak dengan kita semua sebagai motornya. Posisi koordinator hanyalah sebagai perangkum dari kehebatan teman-teman semua.
Makanya KRI butuh teman-teman yang mau bersuka dan berela untuk mencurahkan pikiran. Karena sebagai rumah, KRI akan hidup dan rame dengan keberadaan penghuninya yang beraktifitas bersama.
Blog ini adalah wadah. Teman-teman diharapkan mengisinya dengan tulisan apapun sebagai bagian dari komunikasi kita. Kirim saja via imel ke rumahimaji@gmail.com. Dan kami akan menerbitkannya.
Dari perbincangan di rumah bacanya jalaindra itu kita kembali membicarakan kegiatan KRI. Salah satunya adalah keinginan menerbitkan selebaran penulisan kreatif yang akan menjadi wadah komunikasi yang nantinya dibagikan ke sekolah-sekolah dan organisasi-organisasi penulisan kreatif lain seperti FLP Pekalongan.
Kami butuh bantuan teman-teman semua, baik menyangkut dana (kita patungan yuk!), tulisan (nggak lucu kalau selebaran itu kosong kan?), maupun pendistribusian.
Aduh … kok aku nggak bisa nulis yang lebih enak nih buat diposting kali ini. Ya udah lah, tunggu aja kabar selanjutnya.
Yang jelas, KRI belum mati selama kita semua masih menghuni dan berinteraksi di dalamnya.
Minggu, Desember 07, 2008
Nimba Ilmu di Café
Nimba Ilmu di Café
“Luar biasa!! Dua dosen yang…luar angkasa!!” (Saking luar biasanya…hahaha) begitu tutur seorang peserta Pelat Pulpen (Pelatihan Penulisan Lingkar Pena) yang datang jauh-jauh dari Depok, Jabar ketika ditanya bagaimana kesannya nimba ilmu di Café BSP Pekalongan Minggu (23/11).
Acara yang dinahkodai ketua Divisi Kaderisasi dan Pengembangan Tulisan FLP Pekalongan, Aveus Har mendapat sambutan yang antusias dari para peserta. Benar-benar diluar dugaan panitia. Selain dimanjakan dengan suguhan enak dan suasana yang oke, para pecinta sastra di Pekalongan dapat menimba ilmu langsung dari dua dosen: Rianna Wati, dosen sastra UNS Solo dan Isnaniyah, dosen Bahasa Indonesia STAIN Solo.
Ditambah lagi gaya kocak Aries Adenata, mantan editor yang kini beralih tugas menjadi Supervisor Marketing penerbit Indiva Media Kreasi menambah suasana semakin cihuy. Aries Adenata yang ngakunya punya trah menajdi orang terkenal membagikan banyak ilmunya bagaimana cara mengirim naskah ke penerbit dan membuka peluang selebar-lebarnya untuk penulis baru yang mempunyai tulisan bermutu.
“Menulis apa?”
Ibu Rianna Wati, penulis sekaligus dosen Sastra UNS menuturkan bahwa banyak orang ingin menulis tapi kemudian berhenti pada ‘nulis apa ya...?’ Tidak ada yang bisa ditulis atau justru kebanjiran ide sehingga bingung menuliskannya. Padahal kalau kita mau, semua yang ada disekitar kita akan menjadi tulisan yang menarik. Hanya saja masalahnya, bagaimana cara menuliskannya?
Ternyata yang bingung nulis bukan cuma saya lho… Bangga banget punya banyak teman yang kebingungan. Wakakak!
Menulis membutuhkan proses latihan! Dan latihan yang kita lakukan janganlah memikirkan lebih dulu bagaimana hasil tulisan kita, yang penting adalah karya (tulisan0 nyata kita. Setelah berkali-kali berlatih nantinya kita akan terbiasa menyusun kata dan kalimat, setelah itu barulah kita coba benahi ‘muatan’ tulisan kita” tambahnya.
***
Bu Isnaniyah, dosen muda berparas cantik itu juga tak kalah oke memberikan ilmunya. Tayangan film dengan bahasan yang lugas dan jelas membuat mudah diserap oleh semua kalangan. Bayangin aja, acara yang semula digelar untuk paramuda ini ternyata dihadiri juga anak-anak SD sampai bapak-bapak. Komplit deh!
Wacana tentang deskripsi, narasi, dan eksposisi dikupas tuntas pada sesi ini. Peserta jadi semakin ‘melek’ pengetahuan tulis menulis.
Menulis dan kreatifitas adalah satu hal yang saling memberi nyawa. Menulis membutuhkan change kreatifitas yang nyaris tanpa batas. Sedangkan kreatifitas tanpa dituangkan dalam bentuk tulisan bagaikan mengoleksi papan tulis dengan debu. Demikian tutur bu Isnaniyah, dosen bahasa Indonesia STAIN Solo yang mengantarkan materi sukses menulis kreatif.
***
Nimba ilmu gak harus di sekolah kan? Pelat Pulpen ini adalah buntut semangat dari acara yang rada-rada ‘aneh’ yang diadain bersama Om Daktur ketika silaturahim ke Rumah Imaji. Waktu itu OD menekankan bahwa “Di luar kelas kita harus terus berproses!” Dan kami membuktikan bahwa kami terus berproses dan menimba imu dimanapun tempatnya.
Yang mencengangkan, ternyata Pekalongan menimbun calon-calon penulis berbakat yang penuh semangat. Pelat Pulpen adalah langkah pertama menghidupkan halaqoh sastra seperti saran Om Daktur. Agar semangat terus berkobar, kedepan kita akan mengadakan Kantin Banget dengan menhadirkan Om Daktur dan krunya ke Pekalongan lagi. Siap kan Om? Semoga, InsyaAllah, Allahu Akbar!
(Yossi Maylani/ Koordinator Forum Lingkar Pena Pekalonan)
Rabu, November 26, 2008
silaturahmi budi maryono di KRI
(FOTO MENYUSUL....)
“Budi Maryono : Pengajaran Bahasa di Sekolah Gagal Total.”
“Pengajaran Bahasa di Sekolah gagal total,” demikian dikatakan Om Daktur, Budi Maryono dalam kunjungannya di Komunitas Rumah Imaji Pekalongan, Minggu (16/11).
Acara santai yang dihadiri lebih dari limabelas anggota komunitas itu memberi wacana baru bagi para guru Bahasa Indonesia khususnya dan seluruh civitas akademika pada umumnya.
“Lulusan SMA, seharusnya mampu menulis apasaja dengan bahasa yang baik,” tambah Om Daktur. Namun pada kenyataannya bahasa anak-anak SMA sekarang dinilai masih berantakan. Semua itu disebabkan karena gurunya telah gagal dalam proses pengajaran.
Hal itu ditanggapi langsung oleh Dra. Sri Kusmaniyah, guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Kajen. “Sebetulnya kami ingin mengajarkan sastra yang baik, karena dalam kurikulum juga ada bagaimana menulis puisi juga cerpen. Tapi durasi belajar di sekolah hanya dua jam setiap pekan. Bagaimana mungkin dalam waktu dua jam itu anak-anak bisa menyelesaikan 1 buah cerpen misalnya. Belum lagi tuntutan sekolah, yang harus mengejar materi-materi ujian nasional. Kami sebagai guru akan dianggap gagal juga jika banyak yang tidak lulus UAN.”
Menulis adalah sebuah proses, begitu kata Om Daktur. Sebuah komunitas seperti rumah Imaji perlu dikembangkan dis etiap kota sebagai sarana pembelajaran di luar kelas agar sastra membudaya. Suara Merdeka sudah memberikan fasilitas agar karya para remaja bisa dibaca lebih banyak orang.
Berkomunitas berarti berproses bersama, yang biasa menulis menularkan ilmunya pada yang lain, yang belum menulis diharapkan segera mengejar agar bisa menulis.
Redaktur halaman Suara Merdeka itu menginginkan adanya ‘Halaqoh Sastra’ ada dimana-mana. Karna dengan berkomunitas kita bisa mengalami editan orang lain, menuai kritikan dan pujian, mendapatkan ide-ide baru juga semangat untuk terus berproses menghasilkan tulisan.
“Bagaimana menjadi kontributor surat kabar, Om Daktur?” tanya seorang peserta.“Hal pertama yang harus dilakukan adalah menulis! Jangan mengandalkan bakat. Karena menulis adalah keterampilan.Yang kedua adalah terus belajar menghasilkan karya terbaik.”
Begitu acara selesai, Om Daktur bak artis dadakan dikerubuti penggemar dan wartawan amatiran.
(Yossi Maylani/Koordinator Forum Lingkar Pena Pekalongan)
keterangan: dikirim juga ke suara merdeka
Selasa, November 18, 2008
pelatihan penulisan DLL
waduh!
aku mustinya ditimpuk nih. gimana gak, rumah imaji jadi pendukung kegiatan pelat pulpen alias pelatihan penulisan lingkar pena yang akan diadakan tanggal 23 november 2008 nanti, bahkan aku yang jadi pembuat selebarannya, tapi lupa memposting di sini.
waduh!
aku juga musti ditimpuk karena nggak memposting acara silaturahmi Budi Maryono, redaktur suara merdeka di komunitas kita. meski lewat sms aku sudah meworo-worokan.
waduh juga!
mustinya kalian semua juga kena timpuk.
emang rumah imaji mau gimana kalau kalian pada melempem?
waduh!
Minggu, Oktober 19, 2008
PELATIHAN MENULIS CERPEN
aduh, lama gak posting neh. komunitas kita lagi lesu, kurang darah. jujur aja, aku juga lagi capek. kupikir, what the hell i'm doing? aku ngadain komunitas kan biar kita yang suka berimajinasi bisa share bareng. tapi kalau tiap kegiatan musti aku yang on the way... capek juga kan?
ya sudahlah, kalau komunitas rumah imaji lagi nggak pingin bikin kegiatan, ku asyik2 aja. yang penting ku masih bisa belajar dari temen-temen meski lewat web. (makasih utk google yang nganterin aku berselancar dengan nikmat!).
o, ya. buat temen-temen, ada info dari FLP Pekalongan yang akan mengadakan pelatihan penulisan cerpen akhir november nanti. berhubung panitiannya juga Ave, maka menghimbau kepada semua rekan utk bisa ikut. karena tutornya bener2 yang udah kompeten dan datang khusus dari solo (kecuali ave yg katanya akan didaulat juga menjadi tutor darurat)
info selengkapnya hubungi ketua FLP PEKALONGAN, Yossi 08562677126.
BURUAN!
Senin, September 08, 2008
reportase FORMA KRI-FLP
REPORTASE: FORMA KRI-FLP
Kalau postingan kemarin Forum Bersama itu kita singkat menjadi FORBER, sekarang kita ganti menjadi FORMA. Kedengarannya lebih enak ya? Nah, meskipun acara kemarin tidak ada fotonya (karena baik KRI maupun FLP tidak mempunyai foto digital) maka setidaknya ada reportasenya nih. Meskipun … yah, cuma sekedar cerita dikit aja. Heran deh, mustinya kita mempunyai reporter untuk kegiatan-kegitan kita ya?
Acara, seperti pada umumnya kebiasaan kita, mulur satu jam. Ketika Ave dan Dayat datang jam 15.00 WIB, ruang pertemuan juga belum dibuka. Di belakang, mas Tarno dan mbak Yossi sedang sibuk dengan bakaran ayam. Heran, kenapa nggak ada yang bantu ya?
Ave dan Dayat bantu nyiapin tempat pertemuannya. Menggelar tikar. Pingin bantu nyicipin masakan tapi percuma. Pasti sudah enak. He he he… orang lagi puasa mau nyicipin, ntar malah ‘melupa’ dan makan….
Ya udah, duduk-duduk aja nunggu yang lain datang. Dan akhirnya pada berdatangan juga. Meski baru 8 orang, acara di mulai jam 16.10 WIB. Setelah dibuka oleh Ummu, acara dilanjutkan tilawah oleh Tria. Lalu dilanjut dengan Sharing: “aku dan proses kreatif”.
Acara memang ‘dilukir’. Karena menurut Ave, diskusi “kematian penulis” nanti kalau sudah pada datang semua. Begitulah, mbak Yossi meski haus (ya iya lah! Secara puasa gitu lho!) memoderatori acara berbagi pengalaman ini. Dan mulailah meluncur dari temen-temen tentang proses kreatif mereka dalam berkarya. Sambil curhat-curhatan ini, undangan lain juga pada berdatangan.
Ternyata, sebagian besar teman-teman mengaku sedang mandul karya. Meskipun Dayat misalnya mengaku telah mengirimkan 60 cerpen ke majalah Anneka dan belum juga ada yang nongol. Yang dikomentari mbak Yossi dengan mengatakan bahwa Joni Ariadinata pun pernah mengalami naskah tidak dimuat sebanyak 500 biji dan sekarang siapa yang meragukan kualitas karyanya? Jadi dalam proses, kebelumberhasilan itu hal yang wajar.
Tria yang curhat kemudian bilang pernah bikin novel dan belum jadi. Dikirim ke Afifah Afra untuk minta komentar sebelum melanjutkan tapi tidak ada komentar. Dan bertanya ke forum “bagaimana cara memperbaiki suatu karya?” yang di jawab dengan kebisuan, desahan dan garuk-garuk kepala seolah mengatakan “sama lah masalahnya ma kita-kita” he he he he… entar Tria, moga ada yang sudi menjawabnya ya…. Di tunggu di rumahimaji@gmail.com.
Kiki, Lufi, Priana, Ari, setali tiga uang. Hanya nulis coret-coret kecil di diary. Tapi kiki lebih berani mempublikasikan karya ke temen-temennya lewat sms. Untung cuma puisi yang kau sms kan. Kalau novel juga kau sms kan, senanglah operator selular yang belakangan banyak bikin pusing dengan tarif-tarifnya ini! Absar yang lumayan nih. Cewek smp ini setidaknya sudah nulis dan dimuat di buku CIKAL.
Bambang, Udin, Ummu, Siti Khuza malah mengaku lagi tidak berkarya. Aduh … lagi sibuk ya? Yang lagi getol nulis Luluk yang sekarang lagi nulis kisah-kisah hidupnya meski belum dikirim ke media. Widyasari lagi nyelesein novel. Yossi lagi nyelesein buku non-fiksi. Dan Ave sedang getol belajar nulis cerpen koran. Bukannya sudah tidak mau nulis di majalah remaja lagi, katanya, tapi pingin membuktikan diri saja bahwa dia juga bisa nulis di koran meski saat ini belum juga bisa nembus. Semangat Ve ya…
Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi “Kematian Penulis: Apa, mengapa dan bagaimana mengatasinya.” Dipandu Aveus Har sebagai moderator, forum sepakat memberikan definisi Kematian Penulis adalah kondisi dimana penulis atau calon penulis tidak lagi berkarya. Dan pertanyaan untuk forum kemudian adalah ‘mengapa terjadi kematian penulis?’
Dari forum terungkap beberapa sebab yang mengakibatkan kematian penulis yakni kurangnya percaya diri pada karya sendiri, rasa malas dalam menulis, kesibukan lain yang menyita, kekeringan ide untuk dituangkan, hasil karya selalu ditolak oleh media. Kelima hal itu diungkapkan oleh Luluk. Yang oleh M. Isa diklasifikasikan sebagai sebab eksternal dan sebab internal.
Tria menambahi sebab media nggak fair dengan nama baru. Katanya dia pernah baca cerpen Putu Wijaya yang jelek tapi dimuat. Dia menduga faktor keterkenalan berpotensi untuk memunculkan karya. Yang ditimpali Ummu: berarti kita harus terkenal dulu aja!
Ummu kemudian menambahi: lemahnya cita-cita, lemahnya obsesi dan orientasi juga menjadi sebab kematian penulis. Ave menambahi, sebalik kurang percaya diri, rasa terlalu percaya diri, merasa karyanya telah hebat pun bisa membuat matinya penulis.
Dari seabrek sebab musabab itu kemudian dicoba mencari solusi. Untuk kurang percaya diri solusinya adalah mempunyai motivator, baik buku maupun person. Sedang agar tidak merasa terlalu percaya diri dibutuhkan pembedah karya. Bagaimana dengan sebab kematian lain?
Karena bedug maghrib telah menggema dan saatnya berbuka, maka pertanyaan dibiarkan menggantung untuk didiskusikan lain waktu. Selamat menunaikan ibadah puasa!
Selasa, September 02, 2008
FORUM BERSAMA KOMUNITAS RUMAH IMAJI DAN FORUM LINGKAR PENA PEKALONGAN
FORUM BERSAMA KOMUNITAS RUMAH IMAJI DAN FORUM LINGKAR PENA PEKALONGAN
(FORBER KRI-FLP)
Teman, komunitas rumah imaji akan mengadakan kegiatan bersama FLP Pekalongan. Kegiatan ini dalam rangka pertemuan rutin KRI dan FLP yang sekaligus juga sebagai ajang silaturahim.
Insya Allah kegiatan akan diadakan pada:
Hari : Minggu sore
Tanggal : 7 September 2008
Waktu : 15.00 – 18.30 WIB
Tempat : Rumah Yosi Maelani, Kauman Gg. Jambu Rt. 06/03 Wiradesa, Gg. PKU Muhammadiyah ke barat kurang lebih 30 meter. Cara menjangkaunya, dari perempatan Gumawang Wiradesa ke utara ada Masjid Kauman. Di belakang masjid ada PKU Muhammadiyah. Nah, gang jambu tu ada di samping KPU. Kalau kesulitan menemukan tempatnya, bisa hubungi Yosi di 08562677126.
Biaya : GRATIS
Rundown acara:
Rundown acara:
15.00 – 15.30
Acara : Absensi
Personel : Lulu’
15.30 – 15.45
Acara: Pembukaan
Mc: Umu Sulaimah
15.45 – 16.00
Acara: Tilawah
Personel: M. Isa
16.00 – 17.00
Diskusi: “Kematian Penulis: Apa, mengapa dan bagaimana mengatasinya”
Moderator: Aveus Har
Pembicara: Seluruh Peserta
17.00 – Maghrib
Sharing: “Aku dan Proses Kreatif”
Moderator: Yossi Maelani
Pembicara: Seluruh Peserta
Maghrib – 18.30
Buka Bersama dan Sholat Maghrib
Personel: Seluruh peserta
18.30 – Seleseai
Penutup
Mc: Umu Sulaimah
Teman-teman yang kami undang nantinya akan diminta konfirmasi kesediaan. Dan yang tidak kami undang tetapi ingin ikut bisa hubungi aveus har 085742086881.
Sampai ketemu ya…
Senin, Agustus 11, 2008
Jangan terperangkap kotak!
Jangan terperangkap kotak!
Oleh: Aveus Har
Ketika aku mengajak seorang anak kota madya pekalongan untuk ikut kegiatan di FLP, dia membalas dengan balik bertanya, “Itu komunitas kabupaten atau kotamadya?”, aku merasa aneh. Hei, apa bedanya?
Lalu timbullah keinginanku untuk menulis ini buat kita semua: Jangan terperangkap kotak! Entah kotak itu bernama kabupaten, kotamadya, organisasi atau apapun. Kenapa? Karena pemikiran sempit seperti itu membuat kreatifitas kita bagai katak dalam tempurung.
Makanya aku juga nggak keberatan ketika Situ Khuza aktif di FLP (di mana aku sampai sekarang masih tercatat sebagai anggota). Aku juga bersmsan dan berinteraksi dengan penulis-penulis di Komunitas Pena Batang, dan ikut di kegiatan-kegiatan mereka. Lumayan akrab dengan Kawe Shamudra, Sulistiyo Suparno, Sugito, Waskito, Fazyani yang merupakan motor KP di samping banyak nama lain (he he he… maaf gak nyebutin semua…)
Artinya apa? Ayolah, Komunitas Rumah Imaji memang rumah kita, tapi melalanglah kemanapun. Malah aku ingin semua orang berguru sampai ke negeri China, dan tolong nantinya kita bagi-bagi ilmu di Komunitas Rumah Imaji. Kita share kan di sini.
Komonitas kita ini memang lagi krisis penggerak. Karena kita tidak mengikat anggota. Aku memang tidak suka formalitas untuk KRI. Kita punya administratif, tapi kita tidak harus mengukung diri dalam aturan-aturan yang membelenggu. Artinya, biar saja KRI menjadi komunitas terbuka. Siapa saja boleh mengaku sebagai anggota KRI meski hanya sekali ikut pertemuan misalnya. Tapi tetap saja kita butuh ‘motor’. Butuh beberapa orang yang menjadi tulang punggung kegiatan komunitas. Aku bersyukur masih ada Siti Khuza yang meski banyak kegiatan (di kampus dan organisasi dakwah), masih mau menjadi motor. Aku bersyukur ada senior macam Khairul Huda dan Ina Huda yang masih mau mensupport. Bersyukur ada banyak orang yang peduli dan akan peduli.
Dalam rangka menembus sekat-sekat kotak ini kita bikin FORUM BERSAMA. Rencana forum bersama ini akan melibatkan Tim Majalah Sekolah WAHANA SMA N.1 Kajen, Komunitas Rumah Imaji, dan Forum Lingkar Pena Pekalongan. Forum ini terbuka untuk umum sehingga tidak menutup kemungkinan nantinya akan tergabung dari organisasi, sekolah atau ‘kotak-kotak’ lain. Dengan begitu, bola salju akan kian membesar dan kelak kita akan bisa menikmati ‘saling belajar’ dari semua kotak yang ada.
Untuk yang ingin ikut berpartisipasi, silahkah hubungi Siti Khuzaiyah 085659676149.
Ayo… kita melangkah bersama!
Sabtu, Juni 28, 2008
SATU-SATU MOTOR KRI BERGUGURAN….
SATU-SATU MOTOR KRI BERGUGURAN….
Teman, sebuah komunitas hanyalah kumpulan orang yang punya kesamaan minat. Dan kita semua tahu Komunitas Rumah Imaji ada sebagai tempat kita saling berbagi dalam dunia penulisan kreatif. Namun bagaimanapun, komunitas butuh kegiatan. Dan selama ini kegiatan kita memang telah berjalan, dengan ‘motor’ yang berubah-ubah.
Awalnya ada Dedy dan Lita. Dua teman kita dari Kota Pekalongan yang mau bersusah payah bersama Ave, Pak Huda, dan Bu Ina, mengadakan bincang bersama penulis pekalongan di Doro 2 Desember 2007 silam. Tapi dalam perjalanan kemudian, Lita mengundurkan diri dari aktivitas KRI karena kesibukan kuliah.
Lalu dalam perjalanan, dari hasil kegiatan di doro itu, ada Fandi Hidayat dan Widyasari yang membantu mengadakan kegiatan-kegiatan berikutnya. Sekarang, Dedy mengundurkan diri karena ingin membangun komunitas sendiri di Kota Pekalongan dan memfokuskan diri di Dewan Kesenian Kota Pekalongan. Tentu saja kita mendukung niat mulia Dedy. Bagaimana pun, dengan semakin banyak komunitas penulis di Pekalongan, akan semakin menyemarakkan atmosfir kreatif di wilayah kita. Kelak, akan ada persaingan positif dalam berkreativitas di Pekalongan antara Kabupaten dan Kota, dan itu adalah hal yang menggembirakan.
Kemudian Dayat mengundurkan diri karena hendak merantau ke Jakarta. Mencari pekerjaan yang diimpikannya. Dan kita tidak mungkin untuk mencegah meski akan merasa kehilangan motor penggerak yang hebat.
Lalu Widyasari pun menyatakan tidak bisa aktif dalam KRI karena ‘urusan pribadi’. Kita menyadari, tiap orang berhak untuk membuat prioritas dalam hidupnya. Dedy dengan komunitasnya, Dayat dengan pekerjaan, dan Widyasari mewujudkan ‘urusan pribadi’nya. Lalu bagaimana dengan KRI?
Masih ada Erika yang getol belajar sastra. Masih ada Siti Khuzaiyah yang mencintai sastra. Masih ada Abdul Syukur yang menjadikan sastra sebagai bagian dari nafasnya. Namun tentu saja, kita tidak hidup hanya untuk sastra. Kita punya kehidupan masing-masing. Punya kesibukan masing-masing.
Erika dan Siti Khuzaiyah harus membagi waktu dengan kuliahnya yang banyak kegiatan, termasuk di organisasi dakwah yang tidak mungkin ditinggalkan mereka. Abdul Syukur mengajar anak-anak. Menjadi guru yang tentu saja menyita waktu. Apalagi aktif juga di organisasi remaja.
Semoga, di sela kesibukan kita, masih ada sedikit waktu untuk mengadakan kegiatan-kegiatan kreatif. Kegiatan yang seperti visi-misi kita, ingin tidak hanya bermanfaat bagi motor-motor KRI, namun juga bagi masyarakat sekitar.
O, ya. Kita belum punya AD/ART kan? Aku usulkan visi-misi kita:
Visi :
Menciptakan atmosfir kreatif dan menumbuhkembangkan bakat dan minat dibidang kepenulisan kreatif di wilayah pekalongan dan sekitarnya.
Misi :
Saling membagi pengetahuan dan pengalaman dalam proses kreatif.
Mengadakan kegiatan yang merangsang kreativitas menulis bagi masyarakat khususnya remaja di wilayah pekalongan dan sekitarnya.
Saling mendorong sesama anggota untuk terus berkarya.
Nah, dengan sebegitu mulianya, apakah tidak membuat kita terpacu untuk bergerak bersama?
Mari menjadi orang ‘gila’ bersama. Seperti kata seorang teman: hanya orang gila yang mau bersusah payah menciptakan rival. Ha… ha… ha…
Ave … mana karyamu? Sibuk mikir komunitas sampai tidak bisa berkarya, atau sibuk nyari istri?
Ave menjawab: entahlah … (dengan tersipu malu….)
Kamis, Juni 12, 2008
SELAMAT DATANG SASTRA PELAJAR PEKALONGAN
Selamat Datang Sastra Pelajar Pekalongan
-Membaca Cikal, Bunga Rampai Sastra Remaja dan Pelajar -
Saya menerima buku ini dari Aveus Har, seorang pegiat sastra di Pekalongan yang juga penulis muda produktif Pekalongan, di acara “Sastra Balik Desa” di Desa Gebyok, Gunung Pati Semarang, 16 Mei 2008 silam. Di tempat itulah juga untuk pertama kalinya saya bertemu dengan awak Komunitas Rumah Imaji Pekalongan, sebuah komunitas yang bergiat dalam kerja-kerja sastra di Kabupaten Pekalongan. Saya senang mengetahui bahwa di Pekalongan ada Komunitas Rumah Imaji, dengan kerja-kerja yang telah mereka capai sampai saat ini, termasuk dengan menerbitkan –bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah-sebuah bunga rampai sastra remaja dan pelajar Kabupaten Pekalongan.
Cikal, demikian buku tersebut berjudul, adalah sebuah kumpulan cerita pendek dan puisi yang ditulis oleh para pelajar dan remaja di wilayah kabupaten Pekalongan. Cerita pendek dan puisi yang masuk ke dalam buku ini telah diseleksi oleh Tim penyeleksi yang terdiri dari Komunitas Rumah Imaji dan DKD Kab. Pekalongan. Hasilnya, terdapat 12 cerpen dan 20 puisi dengan 32 pengarang yang berasal dari pelajar SMP, SMA, anggota Komunitas Rumah Imaji, dan FLP.
Meski saya cukup senang dan bangga dengan penerbitan bunga rampai ini, namun, membaca cerpen-cerpen dan puisi-puisi dalam buku ini, saya tidak menemukan sesuatu yang baru yang cukup untuk membuat saya bisa kagum pada puisi dan cerpen-cerpen tersebut. Pilihan tema yang disajikan oleh para pengarang muda ini masih berkutat di seputar kehidupan remaja dan sekolah, seputar cinta dan persahabatan, pemandangan alam, dan perasaan hati, meski ada beberapa yang sedikit menyinggung permasalahan sosial. Pun bagaimana mengolah tema menjadi sebuah cerita atau puisi, masih biasa-biasa saja. Mungkin wajar, karena buku ini adalah bunga rampai sastra remaja dan pelajar, dan bisa jadi, sebagian besar karya para pengarang yang masuk ke dalam buku ini adalah karya pertama yang mereka tulis.
Semisal cerpen dengan judul “Cehty” (ditulis oleh Widyasari, Komunitas Rumah Imaji), yang menjadi cerpen pertama dalam bunga rampai ini. Cerpen ini berkisah tentang Cehty, seorang cewek centil yang ternyata menarik perhatian Aswin, teman sekelasnya. Sudah lama Aswin menyukai Cehty, namun belum ada kesempatan atau keberanian untuk mengatakannya. Di saat Aswin dihukum oleh gurunya untuk membacakan surat cinta yang tidak seharusnya ia tulis di buku ulangannya di depan kelas, Aswin menyebut nama Cehty sebagai orang yang kepadanya surat cinta tersebut ia tuju. Padahal sebenarnya, surat cinta tersebut ditulis oleh Cehty, dan Cehty menuliskan nama Shasa, sahabat dekat Cehty, sebagai orang yang dimaksud oleh surat cinta Aswin. Cerita yang sangat biasa dan sinetronik, bukan? Demikian juga dengan cerpen “Di Balik Tudung Saji” (ditulis oleh Fandi Hidayat, Komunitas Rumah Imaji). Cerpen ini berkisah tentang kecurigaan di antara teman tentang siapakah sebenarnya yang mengambil paha ayam di balik tudung saji. Cerpen lain yang mengambil tema hampir serupa dengan dua cerpen di atas adalah “Bukan Mimpi Biasa” dan “September Ceria”.
Cerpen berjudul “Toksoplasma” (ditulis oleh Febriana Setianingsih, FLP Pekalongan) dan “Persaingan Sepatu” (ditulis oleh Fadilla Nur’ain Hafidz, FLP Pekalongan) mungkin sedikit berbeda, karena pencerita di kedua cerpen bukan sosok manusia. Dalam “Toksoplasma” kisah diceritakan oleh seekor kucing rumahan yang terusir dan menjadi kucing jalanan karena dianggap pembawa sial oleh pemiliknya. Sedangkan “Persaingan Sepatu” adalah percakapan antara sepatu bagus dan sepatu jelek tentang siapa yang sebenarnya lebih berguna bagi pemiliknya. Di kedua cerpen terlihat pengarang masih belum berani menciptakan tokoh yang keluar dari daerah amannya. Tokoh utama berakhir dengan melakukan sesuatu yang terkesan heroik bagi tokoh yang lain. Demi menghindari pengusiran untuk yang kedua kalinya, si kucing jalanan memilih untuk menyingkir manakala ‘majikan’ baru yang menampungnya mulai hamil. Si kucing terusir dari majikan pertamanya gara-gara dianggap menjadi penyebab keguguran kehamilan. Sedangkan sepatu jelek dalam cerpen “Persaingan Sepatu”, meskipun akhirnya terbuang, ia menjadi rumah baru bagi keluarga tikus. Sebuah pesan moral untuk berkorban dan berkeadilankah? Bisa jadi.
Sebuah pembacaan atas kondisi sosial masyarakat yang dilanda kemiskinan yang pada akhirnya melakukan segala cara untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari meskipun menyalahi aturan agama dan masyarakat, terlihat dalam cerpen “Masihkan Surga di Telapak Kaki Ibu?” (ditulis oleh Rina Suryani, Siswi SMAN 1 Wiradesa). Cerpen ini adalah kesaksian seorang anak yang bapaknya tertimpa kemalangan sehingga tidak mampu lagi untuk bekerja mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Sang Ibu yang tidak memiliki sumber penghasilan lagi, akhirnya melacur demi mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya. Pada akhirnya, ketika sang Ibu meninggal karena kecelakaan, sang anak mengalami kebingungan apakah ia akan mengenangnya sebagai seorang ibu yang di telapak kakinya terletak surga, ataukah sebagai perempuan pelacur yang telah mengkhianati ayahnya?
Sebuah tafsir lain atas kondisi sosial masyarakat terlihat dalam cerpen “Bunga” (ditulis oleh Fransisca Delly, Siswi SMAN 1 Kajen). Cerpen ini mengambil kesenjangan antara kota dan desa sebagai latar belakang kisah. Diceritakan seorang bunga desa yang disebut dengan nama Bunga, baru saja pulang dari kota dengan membawa seorang gadis kecil. Orang-orang desa yang berprasangka buruk menyangka gadis kecil itu adalah anak haram Bunga hasil hubungan gelapnya di kota. Pergunjingan dan kecurigaan pun cepat meluas, sampai akhirnya Bunga dibakar hidup-hidup di rumahnya karena dianggap aib bagi warga desa, tanpa bisa melakukan penjelasan siapakah sebenarnya gadis yang dibawanya dari kota. Terlihat pengarang melakukan semacam stereotipikasi terhadap masyarakat desa yang dianggapnya sebagai sebuah masyarakat barbar, tidak mengerti hukum, mudah termakan oleh fitnah dan hasutan, berpikir sempit dan berperilaku anarki. Pertentangan antara desa dan kota terlihat dari cara pandang masyarakat desa yang menganggap bahwa apa yang dibawa Bunga dari kota –gadis kecil- adalah sesuatu yang didapat dengan cara yang kotor. Desa kurang bisa memahami bahwa banyak kemungkinan yang bisa terjadi di kota. Saya curiga, jangan-jangan pengarang telah termakan modernisme kota sehingga melupakan nilai-nilai tradisional desa, di mana selalu ada kemungkinan dialog dan komunikasi antar warga dalam suasana yang lebih akrab dan guyub daripada di kota, yang secara umum telah diketahui bahwa individualisme dan hedonisme telah semakin marak.
Membaca puisi-puisi di dalam bunga rampai ini, tidak ada tawaran sesuatu yang baru dan menarik, sama dengan puisi-puisi remaja kebanyakan. Tema-tema cinta, perasaan, dan pemandangan alam menjadi sesuatu yang diulang-ulang lewat reka kata-kata tanpa mengundang perenungan makna yang lebih mendalam. Secara bentuk, sebagian besar puisi yang terdapat dalam buku ini masih terikat pada tradisi puisi lama. Pengarang menggunakan bentuk kuatrin –empat baris dalam satu bait- dengan kepatuhan rima. Terhitung sebanyak 6 dari 8 puisi yang ditulis oleh pengarang yang masih siswa SMP menggunakan bentuk 3 kuatrin dalam puisinya. Bisa jadi karena mereka sangat terpengaruh dengan pengajaran puisi yang didapat di sekolah dan sama sekali buta dengan puisi-puisi lain di luar apa
yang diajarkan di sekolah. Hal ini mungkin saja terjadi karena keterbatasan akses terhadap buku-buku atau majalah sastra di sekolah-sekolah daerah, atau karena memang pengajaran di sekolah yang tidak merangsang siswa untuk membaca buku-buku di luar buku pelajaran. Beberapa pengarang yang siswa SMA pun menggunakan bentuk yang sama dalam puisi mereka.
KUKIRIM RINDU
Kukirim puisi ini lewat angin
Yang menyanyikan rindu padamu
Membaca gelombang menjala bulan
Mengail harap mengusir cemas
Barangkali lewat puisi ini
Rindu kulunasi
Mencari kepingan bintang
Yang jatuh di padang ilalang
Memetik bunga di padang jiwa
Merangkai rindu jadi mutiara
Kupersembahkan untukmu
Atas nama Tuhan
Kuingin berbagi sepotong cinta lewat tatapanmu
Di mana rindu berguguran menjelma kupu-kupu
Dari salah satu puisi yang ditulis oleh Eliza Ayu Febriani, siswi SMAN 1 Kedungwuni, terlihat jelas bahwa ekplorasi tema, pilihan kata serta pencitraan masih biasa-biasa saja, bahkan sangat umum. Barangkali sudah tidak terhitung lagi aku-lirik yang “mengirim puisi lewat angin”, atau puisi-puisi cinta yang menggunakan kalimat “merangkai rindu jadi mutiara”, atau “rindu yang menjelma kupu-kupu”. Barangkali yang menarik dalam puisi di atas adalah si Aku-lirik yang menganggap rindu sebagai beban, sebagai hutang kepada yang dirindu, sehingga harus dilunasi, meskipun lewat puisi. Akan tetapi, menjadi agak bertentangan dengan bait terakhir, di mana persembahan atas nama Tuhan haruslah dengan penuh kerelaan tanpa beban, tanpa menganggapnya sebagai hutang.
Sebagian besar puisi lain dalam buku ini memiliki aroma dan nuansa yang hampir sama dengan puisi di atas. Puisi yang dalam pandangan saya agak berbeda dengan kecenderungan puisi-puisi lain dalam buku ini adalah puisi yang berjudul “Bisikan Akhir Tahun” (ditulis oleh Siti Khuzaiyah, Komunitas Rumah Imaji):
BISIKAN AKHIR TAHUN
Tahun lalu seulas senyum terkembang penuh arti
Antara gegap gempita terompet dan kembang api
Dalam hati yang melangit, seorang lelaki berbisik pada istri
“Ma, esok rumah terenovasi dan mobil tua hendak berganti.”
Tahun ini sepotong senyum menyungging penuh misteri
Bumi merapuh, air meredami kaki tanpa kembang api
Dalam jiwa yang membumi, lelaki kembali berbisik pada istri
“Ma, tak perlu tinggi-tinggi. Esok bumi merintih, alam tua hendak terganti.”
Dalam puisi ini, ada sebuah pembacaan kontekstual dengan kondisi negeri ini awal tahun 2008 yang mendapat hadiah tahun baru berupa bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Jakarta, Solo, Jateng, Jatim dan provinsi lainnya. Belum lagi bencana Lumpur panas Sidoarjo yang sejak semburan awal pada Mei 2006, belum juga usai sampai sekarang. Ada harapan menuju sesuatu yang lebih baik yang menyembul lewat pergantian tahun, dalam gegap gempita perayaan tahun baru. Namun di sisi lain ada kerendahhatian untuk menyadari keadaan sesama manusia yang tengah terkena bencana di negeri ini. Puisi di atas tidak lagi berpusat pada aku-lirik, sebagaimana kebanyakan puisi lain dalam buku bunga rampai ini, juga tidak berbicara tentang cinta dan perasaan hati, tetapi lebih berbicara tentang ironi negeri ini lewat bisikan seorang suami pada istrinya di akhir tahun.
Sebagai sebuah buku bunga rampai sastra yang membawa nama daerah tertentu, seharusnya juga membawa budaya dan ciri khas daerah tersebut yang diungkapkan lewat bahasa sastra. Akan tetapi, lewat Cikal, budaya dan ciri khas Pekalongan sama sekali tidak dipertunjukkan lewat entah itu latar cerita atau idiom-idiom dalam cerita atau puisi. Hal ini patut disayangkan. Jangan-jangan generasi muda Pekalongan sudah tidak mengenal budaya dan ciri khas kampung halamannya sendiri, karena sudah sedemikian hebatnya digempur oleh budaya modern dan budaya pop lewat tayangan-tayangan televisi dan media propaganda lainnya?
Secara umum, kehadiran buku Cikal, bunga rampai sastra remaja dan pelajar kabupaten Pekalongan ini layak untuk disambut dengan baik sebagai awal untuk bertumbuhkembahnya penulisan dan geliat sastra di kabupaten Pekalongan. Lewat penerbitan yang didukung oleh Dewan Kesenian Daerah dan Pemerintah Kabupaten ini setidaknya telah memberikan lampu hijau bagi perkembangan sastra di kabupaten Pekalongan, tinggal bagaimana para pegiat sastra di Kabupaten Pekalongan menyikapinya dengan kerja-kerja sastra ke depan. Jangan sampai penerbitan buku ini hanya dijadikan sebuah monumen sejarah sebagai jejak pernah adanya sastra remaja dan pelajar di Kabupaten Pekalongan, yang akhirnya mati sebelum berkembang. Sebagaimana sebuah cikal -tunas kelapa- yang nantinya akan tumbuh menjadi pohon kelapa yang tinggi menjulang dan bagian-bagiannya bisa bermanfaat bagi banyak orang, semoga buku Cikal ini akan menjadi benih bagi pertumbuhan aktivitas dan kreativitas menulis dan bersastra di Kabupaten Pekalongan. Dan akhirnya, kita ucapkan selamat datang kepada sastra kabupaten Pekalongan, perjalanan menyusuri negeri kata-kata masihlah sangat panjang.
Adi Toha
Pecinta Sastra dan Buku, lahir di Pekalongan
http://jalaindra.wordpress.com
Tentang Penulis :
Adi Toha, lahir di Pekalongan, 22 September 1982. Pernah menempuh pendidikan di Jurusan Fisika Universitas Padjadjaran (2000 - 2004). Menulis novel, cerpen, puisi dan ulasan buku. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di Koran Tempo, Koran Seputar Indonesia (Sindo), Suara Pembaruan Minggu, Pikiran Rakyat, Batam Pos, Kompas, Riau Pos, Majalah Pawon Sastra dan media lainnya. Saat ini tengah bekerja di Jatinangor dan mengelola blog sastra dan buku: http://jalaindra.wordpress.com. Sesekali berkunjung ke beberapa kota untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sastra. Kumpulan cerpennya berjudul Kalarupa dan kumpulan puisinya berjudul Dalam Duri, Dalam Air Mata.
Alamat : Jl. Kedungwuni Timur RT:01 RW:09 No. 02 Kab. Pekalongan,
Jawa Tengah. 51173.
No. telepon : 081320932117 / 022-7790174.
Email : jalaindra@yahoo.com.
Website : http://jalaindra.wordpress.com
No. Rekening : 0893-01-000959-50-9 BRI Cabang Unpad a.n. Adi Toha.
Jumat, Mei 30, 2008
Bedah Karya dan Bincang Sastra
Minggu, 25 Mei 2008, aku diundang oleh kawan-kawan Komunitas Rumah Imaji Pekalongan, sebuah komunitas yang bergiat di ranah sastra di Pekalongan untuk berbicara dan sharing tentang "Menciptakan Atmosfir Sastra untuk Produktifitas Berkarya". Pertemuan kecil yang diadakan di rumah Bp. Khairul Huda di Doro itu dihadiri oleh Bp. Ghufron Muda, Ketua Komisi Sastra Dewan Kesenian Kota Pekalongan, suami istri Khairul Huda dan Ina Huda, yang keduanya adalah penulis Pekalongan, Aveus Har, penulis berbakat dan produktif dari Pekalongan, dan beberapa kawan dari Komunitas Rumah Imaji.
Aku berkenalan dengan Komunitas Rumah Imaji lewat sebuah pencarian tentang geliat sastra di Pekalongan lewat media internet. Google mengarahkan aku ke blognya KRI. Senang sekali ternyata di Pekalongan ada sebuah komunitas yang tengah bergeliat dengan semangatnya untuk membangun sebuah gerakan sastra di Pekalongan, terutama wilayah kabupaten. Sewaktu acara "Sastra Balik Desa" yang diadakan oleh Komunitas Hysteria Semarang 16-18 Mei lalu, aku baru bertemu muka dengan Aveus dan Fandi Hidayat, dua orang milisi KRI. Aku banyak mendapat gambaran tentang geliat sastra di pekalongan lewat obrolan dengan keduanya. Memang, meskipun aku berasal dari Pekalongan, namun selama ini aku berproses dalam sastra di Jatinangor. Ada semacam kerinduan dan panggilan untuk ikut membangun geliat sastra di kampung halaman sendiri. Untuk itulah aku sangat senang dan antusias ketika mengetahui bahwa di pekalongan ada KRI.
Di pertemuan kecil yang gayeng dan akrab itu aku didaulat oleh Aveus untuk sedikit berbicara tentang atmosfer sastra dalam hubungannya dengan produktifitas berkarya. Wah, aku sendiri sebenarnya tidak begitu mumpuni untuk berbicara tentang itu. Aku belum begitu banyak berkarya, karya-karyaku yang ada pun belum seberapa, baik kuantitas maupun kualitas. Akhirnya, aku sedikit sharing pengalaman dan proses kreatif saja. Aku malu sebenarnya, apalagi berbicara di depan Pak Ghufron dan Pak Huda yang tentu saja jauh lebih berpengalaman daripada aku.
Komunitas Rumah Imaji, dalam usianya yang baru beberapa bulan, telah berhasil membuat sebuah buku Bunga Rampai Sastra Remaja Kabupaten Pekalongan, bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah (DKD). Sebuah prestasi yang layak untuk dibanggakan. Dengan adanya buku tersebut aku pikir bisa untuk menumbuhkan minat remaja terutama siswa sekolah di Pekalongan untuk menulis. Sungguh, aku salut dengan kerja-kerja mereka.
Sabtu, April 12, 2008
BERANDA ITU BERNAMA BURAM
BERANDA ITU BERNAMA BURAM
Dua kali pertemuan rumah imaji tidak terlaksana. Pertama karena kita sibuk dengan urusan bunga rampai, dan ke dua karena beberapa teman ada kesibukan. Sempat ada kekuatiran dalam diriku jika rumah kita roboh. Tapi alhamdulillah teman-teman masih peduli untuk tidak membiarkan rumah imaji roboh karena ditinggal sibuk penghuninya.
Dalam gambaranku ke depan, aku memang menginginkan bisa memberi warna dunia sastra sacara makro. Pertama secara regional, di daerah. Kebetulan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Pekalongan dan Bupati menyambut gayung sehingga Bunga Rampai Sastra Remaja dan Pelajar bisa terwujud. Tapi ini hanyalah sebuah langkah awal, yang harus disusul dengan langkah-langkah berikutnya. Hal ini jelas menyita sebagian perhatian dan waktu (termasuk tenaga) aku sebagai koordinatornya. Aku menyadari teman-teman yang lain mempunyai banyak kesibukan sehingga belum optimal membantu untuk program-program ‘keluar’. Tapi aku harap, teman-teman bisa membantu untuk tetap menyemarakkan rumah kita dengan pemikiran, ide, gagasan dan tindakan nyata yang intinya membuat suasana rumah tidak nglangut.
Karena buram kita plot menjadi salah satu beranda rumah kita, maka karya teman-teman ikut serta bercengkrama di dalamnya. Sayangnya, jujur aku sedikit kecewa karena teman-teman tidak mempersiapkan karya dari jauh hari sebelumnya meski sudah kuminta. Sehingga karya teman-teman belum optimal. Malah beberapa lebih jelek dari karya ‘tamu’ kita di beranda ini.
Tapi tak apa, sebagai proses pembelajaran. Nantinya dari buram ini kita bisa mencoba mengevaluasi seberapa jauh kreativitas imaji kita.
Sembari aku mempersiapkan langkah-langkah ‘keluar’ selanjutnya, teruslah belajar dan berkarya. Termasuk diriku, nih. Udah dua minggu sibuk ngetik urusan administratif aja. Sebel deh!
Salam imaji!
Aveus har
Sabtu, Maret 15, 2008
DISKUSI GAYENG CINTA, MENTARI DAN HUJAN
DISKUSI GAYENG CINTA, MENTARI DAN HUJAN
Minggu kemarin, 9/3/08, kita kumpul di rumah widyasari lagi. Bukan apa-apa. Emang nyari tempat buat kumpulnya susah sih. Rencana pingin di tempat Abdul Syukur, tapi ternyata susah dijangkau. Wah, kalau begini emang kita mustinya punya ‘base camp’ sendiri yang fixed nih. Semoga apa yang dijanjikan DKD Kab. Pekalongan untuk memberi kita ruang di gedung kesenian segera terwujud.
Pertama kita membahasa masalah penerbitan bunga rampai “CIKAL”. Gagasan yang kita ajukan ke DKD sudah disetujui tinggal menunggu dana cair. Tapi DKD minta bulan Maret 2008 ini naskah sudah siap.
Weks! Padahal kita pingin menggali karya dari anak-anak sekolah. Dengan waktu yang singkat ini, terpaksalah kita memakai jalan pintas. Lewat getok tular guru-guru yang dikomandoi Ibu Karniti, SPd. Mungkin tidak semua sekolah di Kab. Pekalongan ini kita cover, tapi setidaknya langkah ini semoga bisa menemukan karya-karya dari teman-teman pelajar yang berbakat.
Jadwal kerja sudah disusun dan kita mulai bergerak sejak tanggal 6 Maret lalu. Semoga berhasil ya. Untuk teman-teman semua, terima kasih bersedia berjuang bersama menggeliatkan penulisan kreatif di Kab. Pekalongan ini.
Setelah itu kita diskusi puisi yang menjadi latihan kita. Diskusi kali ini menghadirkan Ghufron Muda yang mengupas tuntas karya-karya teman-teman KRI. Meski hanya beberapa yang masuk menyerahkan karya, diskusi kali ini benar-benar gayeng.
Sayang sekali aku paling susah buat menggambarkan semua suasana diskusi yang gayeng itu dalam tulisan. Makanya yang kemarin nggak bisa datang (Abdul Syukur sakit, Fiki Porniadi dan Yusuf nggak ngasih kabar) silahkan membayangkan sendiri aja.
Moga lain waktu aku bisa lebih hidup dalam menceritakan detail kegiatan yang kita lakukan ya! Saat ini pikiranku sedang banyak cabang. Ada naskah buku untuk LPPH yang belum juga selesai, ada kesibukan bunga rampai, tadi pagi malah ada rencana dimintai bantuan DKKP (Dewan Kesenian Kota Pekalongan) untuk kegiatan lomba… dan tentu saja… sibuk mikirin menemukan calon istri yang bisa diajak berbagi pikiran dalam dunia imaji… duh…. Di mana sih Tuhan kau tempatkan calon istri untukku?
Yang datang kemarin ada Ghufron Muda, Karniti, Aveus Har, Widya, Dyah, Erika, Khuza, Rohman. Kita bahkan saling memberi komentar dan masukan pencitraan yang pas untuk puisi-puisi itu. Sebelnya, kemarin ketahuan kalau ave nggak tahu tentang persajakan. Ketika Ghufron bilang persajakan puisi a-a-a-a, ave nyeletuk, “Bukan a-a-a-a kok, tapi i-i-i-i. Dan meledaklah tawa. Ternyata ave berpikir karena vokal terakhir di tiap baitnya ‘i’ maka persajakannya ya ‘i’.
Yah… namanya belajar. Tapi secara keseluruhan, karya ave paling bagus kok…. (ha ha ha ha narsis, lo!). Widyasari malah mengaku nggak bisa nulis puisi, lebih enak nulis cerpen! Memang keminatan tiap orang kan beda. Tapi dengan mencoba semuanya, percaya deh itu nggak ada ruginya. Iya nggak?
Ikutan baca dan kasih komentar ya! Untuk yang belum bikin, ayo dong bikin buat ngramein.
Senin, Februari 25, 2008
pertemuan aneh....
kemarin ave sempat hopeless banget. sebelum pertemuan ada beberapa teman yang ijin. oya pertemuan kemarin kita adain di rumah widya. tapi ternyata widya malah gak bisa ikut karena musti takziah ke rumah yayangnya, (yang meninggal embahnya yayangnya gitu...) . kita ditemani kakaknya.
nah sebelum pertemuan beberapa temen sms gak bisa datang. siti khuza yang kemarin juara 3 lomba cerpen remaja irm jateng gak bisa datang karena ada tugas kuliah. gitu juga erik yang talentanya boleh juga. lalu dedy juga gak datang. lalu rohman. lalu.... pak ghufron juga. aduh!
tapi masih ada yusuf, anak al mizan, tabloid kampus iain pekalongan, ada fikri, ada new comer: ghufron alit, ada dayat, ada abdul syukur yang jadi juara 2 di lomba cerpen irm jateng.
jadi masih asyik.
tapi ada yang aneh kalau aku cermati...
dari semua yang ada di pertemuan kemarin adalah temen2 yang tidak hadir dua minggu lalu di lapangan. dan yang dua minggu lalu hadir, kemarin nggak.
o, ya kita juga berbincang mengenai program ke depan... bikin buram (bunga rampai) dan dapur sastra.
dua minggu lagi kita akan kumpul... di...
ada usulan: gimana kalau di rumah abdul syukur? daerah doro... sejuk adem tentrem
see u later
Senin, Februari 11, 2008
diskusi di lapangan
Halo teman-teman KRI,
kemarin (ahad, 10/2) kita kumpul di Lapangan mataram pekalongan. awalnya pas aku datang sempat shock juga, gimana mo diskusi neh kalau tempatnya penuh orang? karena ternyata tiap minggu tempat itu dipake buat jualan (pasar tiban)! ave sempat nyoba nyari tempat yg enak bareng pak Gufron, yakni di dalam kompleks kantor walikota, tapi gak dapat ijin. ya sudahlah, kita diskusi ditengah hiruk pikuk pasar.
beberapa orang juga sempat noleh ke kita. mereka pikir, ni orang lagi ngapain? kayak lagi sekolah (ada yg bawa buku, mencatat, bawa tas....), tapi kok di lapangan ya? sayang mereka cuma liat aja, nggak bertanya. kalau bertanya kan bisa kita jawab: "ini kuliah namanya, di universitas terbuka... kan beneran terbuka....
dan sesuai materi, kita diskusi tentang menggila itu. rame banget deh. apalagi pak Gufron yang paling tua di antara kita meski namanya Ghufron Muda, tetap saja semangat membagi ilmunya.
oya, kita juga berencana mengirim hasil latihan kita ke Kaki langit horison.
juga, kita ada program BURAM KRI, alias Bunga Rampai Komunitas Rumah Imaji.
Sippppp...............
Senin, Januari 28, 2008
Karya: aku kehilangan judul
Kita akan publikasikan apa yang telah ditulis teman-teman dalam tugas kita, tapi ternyata aku belum sempat mengetik semua karya teman-teman. nanti insya Allah akan kami ketik. tapi please ... temen-temen bantu dong. misal dengan mengirim file nya ke rumahimaji@gmail.com
aku tunggu ya...