Berharap Juara Ke Dua
Alhamdulillah akhirnya selesai juga esai kepemimpinan pemuda untuk kusertakan dalam lomba. Dimulai dari kabar yang kudapat dari Depo, aku sudah mencari gagasan yang ingin aku tulis. Setelah menemukan gagasan isi, aku berjuang menemukan gagasan bentuk.
Menulis esai ternyata lebih susah dari nulis cerpen. Aku harus mencari artikel atau buku untuk menambah pengetahuanku sebelum menuangkan gagasan. Syukurlah aku banyak dibantu oleh google.co.id hingga menemukan banyak artikel yang memperkaya, meski tak semua artikel itu berkenaan langsung dengan tulisanku.
Sebelumnya, aku berdiskusi dengan Mas Den, mantan ketua FLP Pekalongan. Beliau banyak memberiku masukan. Meskipun satu masukannya tidak aku terapkan, yakni: memasukkan agama (Islam) sebagai warna tulisanku. Dalam arti, karena menurut beliau lomba ini diadakan FLP yang notabene islami, maka aku sebaiknya mengusung tema ‘kepemimpinan islami’, yang menurutku akan berbeda makna menjadi ‘esai kepemimpinan pemuda islami’.
Tapi kupikir, karena lomba ini terbuka untuk WNI tanpa embel-embel agama, maka aku merasa tidak masalah jika yang kuangkat adalah kepemimpinan pemuda Indonesia secara universal. Dan itulah yang kulakukan.
Kalaupun kelak memang yang dimaui penyelenggara seperti gambaran Mas Den, biar saja. Pada prinsipnya, aku hanya ingin ikut bicara tentang apa yang kuyakini dan dengan cara bicaraku.
Jadi, dengan segenap kebanggaan akan keberhasilan menuangkan gagasan dalam tulisan, kupersembahkan karya itu untuk dinilai para juri yang terhormat. Dengan disertai doa, semoga bisa menjadi juara ke dua.
Juara ke dua? Kenapa tidak berdoa semoga menjadi juara pertama, sih?
Bukan karena pesimis, kok. Aku hanya merasa, terlalu ribet kalau juara pertama. Bayangkan jika aku diminta ke Jakarta seorang diri, bisa-bisa aku hilang di rimba beton sana. Aku selalu bingung dan panik berada di tempat asing apalagi rame, dan daya ingatanku lemah untuk orientasi ruang.
Aku takut. Sungguh. Silahkan saja kalau mau tertawa ngakak.
Sabtu, September 08, 2007
berharap juara ke dua
Minggu, Agustus 26, 2007
Di mana kesalahanku?
Di mana kesalahanku?
1. Aku tak pernah membaca.
Sungguh, ini ironis. Sebagai seorang penulis di mana kerjaku adalah menuangkan adonan-adonan dalam kepala, aku justru tak pernah menyerap bahan-bahan dalam kepalaku ‘dengan benar’. Iya, tiap hari aku membaca. Buku, koran, majalah, web… selalu saja ada yang aku baca.
Tapi sesungguhnya, aku tidak benar-benar membaca!
Lalu apa yang sebenarnya aku lakukan selama ini dengan buku, koran, majalah, web… tersebut?
Aku hanya mencari tahu.
Ketika membaca novel atau cerpen, aku hanya mencari tahu tokohnya nanti akan gimana? Endingnya akan gimana?
Ketika membaca buku, aku mencari tahu, ini mau ngomong apa sebetulnya?
Ketika membaca koran aku mencari tahu, ada apa sih?
Tapi aku tidak benar-benar membaca. Karena membaca dan mencari tahu itu rasanya berbeda. Membaca, segenap tulisan aku raih, aku cerna, aku rasakan, aku nikmati. Seperti halnya menikmati sup dan bukan mencari rasa asamnya.
Mulai sekarang, ketika membaca, aku akan berlatih menjadikan diriku bejana kosong sehingga tak perlu mencari sesuatu. Cukuplah dengan menikmati, dan membiarkan semuanya mengalir… masuk, terserap, mengkayakan diriku.
Mungkin tak mudah mengubah kebiasaan, tapi lebih susah lagi jika tidak punya tekat.
2. Aku tergesa-gesa
Entah ini karakter atau apa, aku selalu tergesa-gesa dalam banyak hal. Dan ini menjadi hal buruk dalam karier menulisku. Bayangkan, setelah diatas tadi aku berbicara tentang membaca—yang berkaitan juga dengan hal ini; tergesa-gesa mencari tahu—rupanya ketergesaan telah meracuni kegiatan menulisku. Aku tergoda untuk sesegera mungkin mengungkapkan apa yang ingin aku katakan. Akibatnya, seperti kata beberapa teman, seringkali klimaks ku kurang greget.
Dan memang, ketergesaan adalah musuh. Kenapa aku tidak menikmati setiap petualangan dalam pendakian puncak?
(Temanku menyeletuk: itu karena kamu belum menikah. Nggak tahu deh korelasinya apa…)
Aku memang selalu tergesa-gesa. Bahkan ketika sholat pun, otakku telah berjalan jauh meninggalkan tubuhku yang bergerak mekanis seperti robot. Tanpa jiwa. Tanpa ekstase.
Mungkin terlambat. Tapi lebih baik menyadarinya sekarang.
Tuhan, bahkan ketika menulis ini pun aku tergesa-gesa.
Dan aku belajar mulai sekarang.
Menyetel lagu lembut.
Menarik napas panjang dan teratur.
Meritmiskan gerak dalam alunan.
Tidak bergegas-gegas.
Menikmati pendakian.
Mungkin tidak langsung sempurna.
Tapi tak ada salahnya berusaha.
Aku harus berlambat-lambat dahulu bersenang-senang kemudian.
Tapi tidak untuk satu hal ini…
Dimana aku sudah tidak tahan…
Dimana aku harus bergegas-gegas…
Dimana aku tak perduli sedang berlatih lambat…
Karena ini begitu mendesak, oleh waktu, oleh tekanan, oleh dorongan dari dalam, oleh… ah, aku kebelet pipiiiisssss….
Kamis, Agustus 16, 2007
Workshop ala Ave
WORKSHOP CERPEN ALA AVE
Bukannya mau sombong atau merasa sudah sedemikian hebatnya kalau ave punya keinginan untuk mengadakan workshop penulisan cerpen. Ini semata karena ave merasa, ilmu yang selama ini ave dapat dari banyak guru pun musti dibagi-bagi. Toh yang namanya ilmu, dibagi tak akan berkurang, bahkan pasti bertambah. Tentu saja karena dalam setiap interaksi dengan penulis, baik pemula maupun bangkotan, bagi ave sama saja dengan berguru. Ketika menemukan kelemahan tulisan seorang pemula, ave merasa mendapat peringatan untuk tidak melakukan kesalahan serupa. Bukankah itu juga suatu ilmu?
Lagi pula, merujuk saran dari Primadonna Angela (Penulis novel Teenlit dan Metropop) http://vervain.blogspot.com, ave sekalian nyari sahabat yang sehobi dalam dunia imaji ini. Dengan mengadakan workshop, peluang utk itu makin terbuka kan?
Mulailah ave mempersiapkan materi workshop yang merangkum 80% praktek dan 20% teori. Jadi lebih diutamakan prakteknya yang kemudian menjadi bahan diskusi. Ini, meski lumayan bikin pusing, akhirnya jadi juga. Terbagi dalam enam kali pertemuan dan tiap pertemuan berkisar dua sampai tiga jam.
Yang tak mudah ternyata mencari pesertanya. Karena ave sendirian, ave pingin workshop ini diintegrasikan dalam suatu komunitas. Jadi segala macam persiapan tempat, konsumsi dan macam-macamnya nanti disiapkan bersama.
Pertama, ave nyoba buat FLP Pekalongan. Kan ave tercatat sebagai anggota, setidaknya masih memiliki KTA. Ave sms ke pengurusnya, nanya kapan pertemuan karena selama ini tak ada undangan pertemuan (beda ketika ketuanya Mas Den dan kemudian Mas Eko dimana pertemuannya rutin dan terjadwal). Sayangnya mereka nggak merespon, entah kenapa.
Lalu, lewat Mas Eko yang aktivis IRM, ave minta dihubungkan ke teman-teman IRM Pekalongan yang hobi nulis. Nanya-nanya bagian yang mengurusi kegiatan ini. Tapi entah kenapa juga, ave nggak dapat akses. Beberapa teman IRM yg sudah ave kenal (Mbak inayah, Mas Nasyid) juga nggak menunjukkan respon.
Lalu, lewat Mas Den yang mantan aktivis IPNU, ave juga minta akses. Dapat akses ke departemen infokom yang membawahi tabloid internal. Setelah berkenalan dengan mereka dan mencoba memaparkan ke pengurusnya (Mas Herwanto dan Mas Teguh), ternyata mereka pun nggak merespon. Entah kenapa….
Sampai di sini ave jadi senewen. Siaul banget! Ternyata mau berbagi ilmu pun nggak mudah ya. Dan dalam kesenewenan ini, seorang sahabat yang jauhhhh dari dunia tulis menulis alias sama sekali nggak minat, ngasih masukan:
"Ngapain sih repot-repot. Kalau ada ember butuh air, biar aja mereka yang nyari sumur. Jangan sumur yang repot-repot mencari ember buat dikasih air."
Yah, lumayan ngobati senewen. Meski ave nggak layak disebut sumur, Cuma kolam penampung aja mungkin. Karena yang ave dapat juga dari guyuran penulis hebat lain.
Ada lagi yang ngasih masukan: "Kamu tuh, kalau mau bagi ilmu jangan gratisan. Apalagi kamu yang nyodorin. Jaman sekarang, yang gitu nggak dianggap. Justru yang bayar mahal itu yang dicari, meski mungkin nggak lebih baik."
Dan … ave pun ketawa ngakak mentertawakan kekonyolan diri sendiri. Atau tepatnya, kegoblokan diri sendiri. Terlebih, bukankah sekarang ave sudah lama tidak menulis cerpen karena tengah menempa diri nulis novel (meski … yah, belum beranjak jauh…)?
Ah, ya. Makasih teman FLP Pekalongan, makasih teman IRM, makasih teman IPNU-IPPNU … udah nyadarin ave bahwa masih banyak yang perlu ave pelajari dan memfokuskan sisa tenaga dan pikiran ke pelajaran ave daripada sok ngasih workshop padahal belum apa-apa. Masih jauhhhhhh banget untuk itu.
Banyak yang lebih kampiun utk itu, dan bukan ave.
I know it.
(Info tambahan: tempo hari dpt bocoran dari Mas Denny Prabowo, beliau bakal mengadakan pelatihan penulisan jarak jauh. Jadi, siap-siap aja buat mendaftar. Belum tahu bayarnya berapa. Moga terjangkau buat kantong ave deh… rugi kalau ave nggak ngikut)
(Tambahan berikutnya: barusan dapat sms dari mas Denny, katanya info tersebut ada di www.lingkarpena.net. )