Ya. Sebagai sebuah organisasi, mungkin KRI perlu berbenah. Namun tentu saja itu butuh waktu, dan pembelajaran. Masa yang telah lewat adalah pembelajaran. Dan mengambil pemberlajaran atas tersendatnya jalan organisasi, maka dewan pimpinan mengambil kebijakan penting:
1. KRI tetap sebagai wadah terbuka, tanpa ada formalitas keanggotaan.\
2. Tujuan KRI adalah menjadi BERANDA bagi siapa saja yang ingin berbincang tentang dunia penulisan kreatif. Maka, sebagai beranda, KRI tidak membatasi siapa saja yang bertamu asal dengan itikad baik utk maju bersama dalam berkarya.
3. Yang penting adalah Karya. Pertemuan tidak penting karena era cyber dan sms bisa menjembatani pertemuan.
4. KRI boleh mengadakan kegiatan yang meminta 'sumbangan dana' utk pelaksanaannya, karena KRI tidak mempunyai donatur tetap.
KRI akan mengambil langkah yg perlu demi kita tetap berkarya. Bukan seremonial semata.
salam,
Dewan Pimpinan KRI
kOORDINATOR
AVEUS HAR
Rabu, November 11, 2009
MATI? TIDAK, KRI MASIH HIDUP
Selasa, Agustus 04, 2009
pengumuman kematian KRI

AKHIRNYA MATI JUGA….
Berita ini menyedihkan,
Tapi juga melegakan….
Baiklah, kematian adalah suatu titik dimana masa hidup itu berakhir. Semua orang lebih menginginkan hidup dari pada mati tapi seringkali tergeragap ketika ditanya “untuk apa kehidupanmu?”
Ah, ya… kau bisa menjawab kehidupanmu untuk beribadah kepada Dia yang menciptakanmu. Tapi jika kau bersungguh-sungguh, benarkah itu yang kau inginkan atau sekedar karena kalau tidak menjawab seperti itu maka kau akan dianggap tidak religius?
Baiklah, ini bukan tentang kau, atau aku. Ini tentang sebuah wadah bernama KRI. Yang sekarang telah mati. Dan kita tidak perlu mengenangnya seperti kematian-kematian orang-orang terdekatmu. Karena KRI bukan apa-apa, dan memang ada untuk tdk menjadi apa-apa.
Untuk apa KRI hidup? Tidak untuk apa-apa selain kepongahan bahwa kita punya visi, punya misi, punya tujuan tapi tidak punya tindakan dan semua itu omong kosong. KRI adalah kepongahan seorang ave yang merasa bahwa ada banyak teman-teman lain yang ingin bersama saling berbagi, saling menyemangati, saling belajar…. Kepongahan itu terbukti tak ada yang mau mengisi blog KRI yang sedianya untuk saling berbagi bersama, tak ada yang mengajak bertemu untuk saling bercerita, tak ada yang bertanya berapa karyamu yang kau tulis bulan ini, dikirim ke mana, bagaimana kabarnya, ada informasi apa….
Yang ada hanya batu.
Batu-batu yang diam membeku di ujung waktu.
Berharap keajaiban memecah seperti ketuban.
Dan lahirlah ia: kata-kata yang menjelma dalam tautan.
Kematian ini sobat, kuceritakan karena seperti tadi kubilang, meskipun menyedihkan, namun kematian adalah melegakan. Karena ini berarti ave menyadari kepongahannya. Karena ini berarti dia tahu imajinasi ada dalam kepala-kepala yang tak perlu dikumpulkan. Imajinasi biarkan berkelana sendiri-sendiri tanpa perlu mengusahakan ruang untuk bercengkrama karena ia bebas dan merdeka dan tak perlu saling menyapa kecuali sama menginginkan dan jika tidak ada yang menginginka menyapamu atau kau sapa kau tidak perlu gusar apalagi marah karena KAU BUKAN SIAPA-SIAPA. Kesadaran ini melegakan dan aku hanya perlu menulis apa saja sekedar untuk mengisi blog ini tanpa perduli apakah ini sesuai dengan KRI atau tidak karena blog ini memang semacam rumah suwung dan aku sendirian menghuninya.
Kematian ini melegakan karena aku yakin, dengan matinya KRI akan tumbuh kreatifitas kita yang tidak lagi terbelenggu tetek bengek entah teteknya siapa yang bengek tapi organisasi membuat tetek-tetek kita jadi bengek.
Jadi marilah kita ikrarkan kematian KRI ini dengan sebuah sumpah: “Aku bisa kehilangan kreatifitas dengan kematianku, tapi tidak dengan kematian KRI”.
Aku—sungguh—masih sangat ingin membaca karyamu. Kabari aku jika karya-karya teman-teman yang pernah menyempatkan diri menemani ave bercengkrama di KRI dimuat di media.
Jika kreatifitas kita mati juga, itu sangat tidak melegakan, tapi menyedihkan.
Dan ironis.
Karena kita berpikir kita bisa kreatif dalam jalan sepi.
Tapi sepi juga—meminjam lagu slank—yang membunuh kita.
Jadi,
Apakah engkau mati atau hidup, kau yang tahu.
Sabtu, Maret 21, 2009
BOLA SALJU PENULISAN KREATIF PELAJAR PEKALONGAN

BOLA SALJU PENULISAN KREATIF PELAJAR PEKALONGAN
Oleh : Khopipah
Divisi Produksi Forum Lingkar Pena (FLP) Pekalongan
Dalam suatu kesempatan silaturahmi Budi Maryono ke Komunitas Rumah Imaji (KRI) 16 November 2008 lalu, lagi-lagi tampak saling lempar tanggung jawab atas kegagalan pelajaran menulis di sekolah. Adalah Dra. Sri Kusmaniyah, guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Kajen yang ‘menangkis’ dakwaan bahwa guru bertanggungjawab atas kegagalan pelajaran ini.
“Sebetulnya kami ingin mengajarkan sastra yang baik, karena dalam kurikulum juga ada bagaimana menulis puisi juga cerpen. Tapi durasi belajar di sekolah hanya dua jam setiap pekan. Bagaimana mungkin dalam waktu dua jam itu anak-anak bisa menyelesaikan 1 buah cerpen misalnya. Belum lagi tuntutan sekolah, yang harus mengejar materi-materi ujian nasional. Kami sebagai guru akan dianggap gagal juga jika banyak yang tidak lulus UAN.”
Begitulah. Dan akan selalu begitu jika polemik seperti ini dilanjutkan. Maka adalah hal yang positif ketika KRI bereaksi dengan sebuah tindakan: menerbitkan buletin penulisan kreatif yang dibagikan secara gratis ke sekolah-sekolah.
Buletin ini boleh dibilang sebagai tindak lanjut penerbitan Bunga Rampai sastra remaja dan pelajar “CIKAL", sebuah kumpulan cerita pendek dan puisi yang ditulis oleh para pelajar dan remaja di wilayah Kabupaten Pekalongan pada April 2008. Adi Toha dalam wacana lokal telah mengupas kekurangan dan kebaikan penerbitan ini (SM 24 Juni 2008).
Sebagai sebuah buletin penulisan kreatif, buletin bernama sama—CIKAL—ini mungkin tidak akan bisa berbuat banyak dalam mengatasi kekurangmampuan siswa dalam menulis kreatif. Namun setidaknya, ini adalah bola salju kecil yang digulirkan KRI dengan harapan akan menggumpal dan membesar.
Secara fisik, buletin ini teramat sederhana. Hanya bentuk fotokopian lima halaman HVS yang dilipat menjadi dua sehingga menghasilkan 20 halaman buletin. Penataan layoutnya pun masih terkesan amatir. Namun justru lewat kesederhanaan fisik itu menjadi pertanda bahwa KRI berani melangkah dengan langkah kecil tanpa harus menunggu kesiapan untuk mampu melangkah yang lebih besar.
Meski sederhana, buletin ini lumayan memberikan pencerahan bagi pembelajaran menulis siswa. Untuk edisi perdana yang diedarkan awal bulan Maret ini buletin menampilkan wawancara dengan seorang penulis Pekalongan, NR. Ina Huda. Ini seolah menyadarkan pada pelajar Pekalongan bahwa ada penulis senior yang bisa digali ilmu dan pengalamannya di sekitar mereka.
Buletin ini juga menampilkan bedah karya puisi dari siswa, tips menulis cerpen dan juga kelas menulis. Dari isinya, tampak bahwa buletin ini—sebagaimana diungkapkan di pengantar redaksinya—ditujukan sebagai wadah saling berbagi (share) karena kegiatan kreatif dengan bertatap muka seringkali sulit dilakukan karena halangan individu.
Yang menarik dari buletin edisi pertama ini adalah ajakan untuk mensupport pendanaan dengan menjadi sponshorship/donatur. Dan di halaman belakang, tercantum pemberi dana untuk edisi perdana ini yang jumlahnya tidak seberapa.
Hal ini menarik untuk dikaji, karena sebagai sebuah komunitas, KRI tidak memiliki donatur tetap bagi kegiatan-kegiatannya. Karena itu untuk edisi perdana ini hanya sanggup mendistribusikan ke sebagian kecil organisasi remaja dan sekolah menengah di Pekalongan dan sekitarnya saja.
Ini tampaknya yang kelak akan menjadi pertaruhan, apakah KRI sanggup mendapatkan dana penerbitan kelanjutannya ataukah tidak dibandingkan dengan apakah KRI sanggup memberikan materi buletin yang berkelanjutan. Karena secara KRI adalah komunitas penulis dan peminat dunia menulis kreatif, saya yakin materi isi buletin tidak akan banyak mengalami kendala. Namun bagaimana dengan dana penerbitannya?
Sanggupkah KRI?
Atau pertanyaan yang lebih tepat lagi, adakah pihak-pihak lain yang siap menyambut bola salju kecil ini dan menggumpalinya hingga membesar sehingga memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan kemampuan menulis pelajar Pekalongan?
Jika kemudian bola salju kecil ini akan terhempas ke dasar lembah dan pecah berkeping, aduh sungguh sayangnya. Maka tak ada gunanya polemik dan mencari kambing hitam dalam kegagalan pelajaran menulis di sekolah. Lebih baik bersama saling mensupport untuk memberikan solusi bagi permasalahan tersebut.
***