Kamis, Maret 04, 2010

tentang kereta...

4 Februari 2010


Ayah sedang menulis buku tentang menulis. Dan kamu bangun, pagi masih terlalu dingin tapi kau udah gak sabar utk jalan-jalan. Kau, ayah dan ibu. Kita bertiga berjalan-jalan (ayah menghentikan nulis dan mematikan komputer, ibu sudah selesai mencuci dan menunda menjemur). Ini pertama kali kau naik kereta.

Kereta ini kami beli sejak kamu masih delapan bulan dalam kandungan. Kamu belum lahir tapi ayah sangat gembira menunggu kelahiranmu dan bahkan membelikan kereta yang sampai usiamu lima bulan belum mau kau pakai! Jujur, ayah sempat menyesal membeli itu karena setelah kamu lahir harga kereta turun. Tapi apalah arti harga turun jika daya beli kita turun? (Ini akan menjadi hal yang harus kau ingat nanti kalau kau jadi pengusaha).



Alasan lain ayah membeli ini adalah, karena Budhe juga sedang mengandung. Ayah pikir, kelak siapa yang akan menjagamu ketika ayah dan ibu membuka warung kita? Dengan adanya kereta, kupikir kau bisa nyaman di sana dan buyut bisa menjagamu (kalau tidak pakai kereta dia gak kuat menggendongmu).

Tapi anak budhe meninggal ketika lahir. Dia lahir sebulan setelah kelahiranmu.

Hidup, begitu misteri.

Hei, sekarang kau tampak merasa nyaman naik kereta dan itu menyenangkan. Kelak kita akan jalan-jalan lebih jauh lagi.
Kelak, ayah akan cerita tentang perkembanganmu dari lahir sampai sekarang.




Ayah mau melanjutkan penulisan buku lagi. Kau tahu, jam nulis ayah semakin tidak menentu karena hanya bisa menulis ketika kau tidur (tentu saja ketika tidak sedang jualan juga!).

Tapi itu tidak apa-apa. Lihat, ayah masih tetap produktif dan akan selalu produktif. Kau adalah motivasi bagi ayah. Kau membuat ayah mempunyai impian lebih jelas. Sebuah rumah untuk kita, sebuah usaha yang memungkinkan ayah mempunyai banyak waktu untukmu.

Ayah sangat ingin menjadi pengusaha karena alasan itu. Banyak waktu untuk keluarga, dan utk menulis juga tentu saja.

Ayah mencintaimu, dan ibumu juga...










Tidak ada komentar: